Rihlah

Aldy istanzia wiguna
5 min readJun 30, 2020

--

Sesi mulazamah dengan ustadz Dede Amsa (salah satu murid ustadz Suraedi allahu yarham)

Kali pertama, rihlah ilmiah saya dimulai sekitar akhir tahun 2017 tepatnya di bulan Desember. Saat itu, rihlah pertama tujuannya adalah Pesantren Persis 34 Cibegol. Salah satu agendanya saat itu mulazamah sekaligus kajian rutin Pesantren Sastra bersama KH. M Romli, Mudirul ‘Am Pesantren Persis 34 Cibegol yang juga ketua Dewan Hisbah PP Persis. Yang dibahas saat itu bersama beliau masih berkaitan dengan tema yang ditelusuri dan dikaji oleh saya dan kawan-kawan di Pesantren Sastra yakni seputar khazanah kesusastraan juga dakwah kultural yang banyak ditempuh asatidz di jam’iyyah Persatuan Islam. Alhamdulillah, dalam pertemuan itu terurai banyak kisah tentang kiprah dan hayat beberapa asatidz dalam menjalankan dakwah kultural-nya termasuk bagaimana gagasan-gagasan kembali kepada Qur’an dan Sunnah yang selama ini menjadi panduan jam’iyyah Persatuan Islam disampaikan beberapa asatidz dengan cara yang cukup menarik dan unik. Tak hanya itu saja, beberapa teori kesusastraan Sunda pun dipaparkan beliau dengan cukup menarik sampai kami yang hadir saat itu terkagum-kagum dengan pengetahuan beliau. Begitu juga kisah persahabatan beliau dengan Pak Ajip Rosidi yang setiap bulan sering mengajak beliau menonton pementasan teater di Gedung Kesenian Rumentang Siang.

Kali kedua, rihlah ilmiah saya berlanjut sekitar tahun 2019, tepatnya di akhir bulan April. Saat itu masih dalam rangka menelusuri genealogi serta hayat dan kiprah para ulama Persatuan Islam yang menyusun karya sastra dan melakoni dakwah kultural untuk mengajak para jama’ahnya agar hidup dalam naungan syariat Islam. Dalam agenda rihlah kedua ini, saya mencoba untuk bermulazamah sekaligus silaturahim kepada keluarga besar KH M Syarief Sukandi (allahu yarham) yang saat itu ditemani oleh kang M Ridwan Nurrohman, wakil saya di Pesantren Sastra. Alhamdulillah, di pertemuan tersebut saya disambut hangat oleh ibu Hj Rd. Rokayah Syarief, istri ust Syarief Sukandi, ibu Nur Habibah (salah satu puteri almarhum) dan pak Edi Hadiya (salah satu menantu almarhum). Di kunjungan tersebut, saya dan kang Ridwan mendapatkan banyak pengalaman serta ilmu dan keteladanan dari seorang ust Syarief Sukandi. Mulai dari aktivitasnya di militer, saat beliau nyantri di Pajagalan, sampai melakoni dakwah kultural yang diterima banyak kalangan hingga persentuhannya dengan dunia kesenian Sunda yang dari beliau lahir seorang seniman luar biasa seperti ibu Cicih Cangkurileung. Dalam pertemuan ini pula, saya dan kang Ridwan diamanahi oleh keluarga beberapa dokumen serta buku-buku yang ditulis oleh ustadz Syarief Sukandi serta ibu Rokayah Syarief kurang lebih sekitar tiga puluh dokumen termasuk beberapa karya sastra yang disusun ust Syarief. Satu rihlah dan mulazamah yang membuat kami semakin menyadari betapa peran besar keluarga dalam memelihara dan berikhtiar menghadirkan warisan khazanah intelektual adalah sebuah pengabdian yang tiada henti untuk mencerahkan dan mencerdaskan umat di hari depan. Masya Allah.

Kali ketiga, rihlah ilmiah saya berlanjut ke kabupaten Tasikmalaya. Tepatnya ke daerah Sukaresik, Ciawi, dan Jamanis. Saat itu, di bulan Oktober 2019, saya berkesempatan untuk hadir di Tasikmalaya dalam rangka memenuhi undangan Pimpinan Daerah Pemuda Persis Kabupaten Tasikmalaya untuk membedah salah satu buku yang saya susun serta memaparkan aktivitas dakwah kultural yang dilakoni asatidz-asatidzah Persatuan Islam. Selain hadir memenuhi undangan tersebut, saya pun berkesempatan untuk silaturahim sekaligus mulazamah dalam rangka menelisik hayat dan kiprah perjuangan dakwah ust Suraedi (allahu yarham) di bumi Tasikmalaya. Alhamdulillah, pada kesempatan yang cukup membahagiakan itu, saya dipertemukan dengan ibu Sarah (istri ust Suraedi), ust Taimullah Sabiq (putera ust Suraedi) dan ust Dede Amsa (salah satu murid ust Suraedi). Dari ketiganya, mengalir ragam kisah serta perjuangan ustadz Suraedi dalam menegakkan dan mensyiarkan dakwah Islam di bumi Tasikmalaya ditemani kawan-kawan dari Pemuda Persis semisal kang Andri, kang Aiman, kang Galih, dan kader lainnya. Tak hanya itu, saya pun dalam perjalanan pulang menuju Bandung sempat diperlihatkan oleh kang Andri, beberapa tempat yang menjadi pusat dakwah ustadz Suraedi di Tasikmalaya. Termasuk gedung bioskop yang letaknya tidak terlalu jauh dari alun-alun kecamatan Ciawi yang menjadi lokasi rutin dakwah beliau bersama gurunya ustadz E Abdurrahman (allahu yarham).

Kali keempat, rihlah ilmiah masih berlanjut di kabupaten Tasikmalaya. Tepatnya agenda ini dalam rangka mulazamah ulang atas artikel sederhana saya yang terbit di majalah Risalah bulan Februari lalu. Saya berangkat, sekitar Januari ditemani kang Asep Saeful Azhar, rekan saya di Pesantren Sastra yang diamanahi sebagai sekretaris. Dalam agenda ini, saya kembali menjumpai ustadz Dede Amsa, salah satu murid kinasih ustadz Suraedi (allahu yarham). Perjumpaan di kali kedua ini, saya mencoba menelisik lebih jauh bagaimana pengaruh ustadz E Abdurrahman kepada ustadz Suraedi. Di pertemuan inilah, saya mendapatkan beberapa kisah tentang hubungan guru dan murid ini. Dimulai pemberian hadiah dari ustadz E Abdurrahman kepada ustadz Suraedi berupa kitab berjudul Musiiqul Kabiir karangan Al-Farabi sampai pada kisah tentang koreksi ustadz Abdurrahman terhadap karya-karya ustadz Suraedi. Selain itu, dalam perjumpaan ini pun saya diamanahi sebuah kaset VCD player yang berisi kumpulan lagu nasyid dan qasidah salah satu generasi penerus dakwah ustadz Suraedi dimana lagu-lagu yang terdapat dalam kaset tersebut adalah ciptaan putera ustadz Suraedi yakni ustadz Adong (allahu yarham) dan ustadz Dede Amsa sendiri.

Kali keempat, rihlah ilmiah kembali saya lanjutkan ke Cibegol dengan ditemani kang Salman Syauqi, kader Pemuda Persis Margahayu. Kembali ke Pesantren Persis 34 Cibegol. Menemui KH M Romli, guru para alim ulama Persis di Dewan Hisbah yang juga ketua umum Dewan Hisbah PP Persis. Mulazamah kali kedua ini masih dalam rangka menelusuri jejak, hayat dan kiprah dakwah ustadz Suraedi di daerah Muara, Kutawaringin. Dalam pertemuan yang berlangsung hampir 4 jam, diuraikan bagaimana kedekatan antara ustadz Romli dengan ustadz Suraedi (allahu yarham) termasuk kisah tentang tugas-tugas yang sering diberikan ustadz Suraedi kepada ustadz Romli yang salah satu diantaranya menguji bapak-bapak dan ibu-ibu pengajian di daerah Muara dalam haflah imtihan berupa hafalan Tafsir An-Nasafi dan Bulughul Maram. Dua kitab yang rutin diajarkan oleh ustadz Suraedi semasa aktif berdakwah di daerah Muara tersebut. Selain itu, dalam pertemuan ini diungkapkan pula bagaimana kesan ustadz Romli terhadap sosok yang disebutnya sebagai mutiara yang hilang tersebut. Al-ustadz menyebutkan demikian dengan nada haru tersebab tugasnya mengemban amanah dakwah dari PP Persis dengan belajar kepada ustadz Suraedi tidak sampai selesai disebabkan tugas ustadz Suraedi membina jamaah Muara hampir selesai dan beliau mesti kembali ke Ciawi dikarenakan tugasnya dipindahkan ke sana oleh PP Persis.

Inilah rangkaian rihlah ilmiah dan mulazamah sederhana yang telah saya lewati selama kurang lebih 4 tahun lamanya yang dimulai dari 2017 sampai 2020. Agenda rihlah ilmiah ini tentu akan terus berlanjut, sebab masih ada beberapa yang mesti ditelusuri hingga nantinya apa yang saya dan kawan-kawan Pesantren Sastra himpun tak sekadar menjadi catatan artefak sejarah belaka. Insya Allah, dalam waktu dekat setelah kelas mulazamah rampung. Agenda rihlah ilmiah akan berlanjut. Mulai dari Baleendah, Tasikmalaya hingga beberapa tempat lainnya demi mengungkap serta menyambungkan gagasan dakwah kultural di lingkungan jam’iyyah Persatuan Islam agar generasi berikutnya dapat membumikan gagasan-gagasan para guru dengan lebih mudah hingga pancaran Islam sebagai rahmat bagi semesta dapat mewujud nyata. Aamiin ya Rabbal Aalamiin.

2020

--

--

Aldy istanzia wiguna
Aldy istanzia wiguna

Written by Aldy istanzia wiguna

Seorang pembaca payah. Saat ini beraktivitas di Pusaka Pustaka, perpustakaan sederhana yang sedang dirintisnya.

No responses yet